Perlu Terus Dorong Produksi Susu Lokal Untuk Tekan Impor

Neraca

  1. Anggota Komisi IV DPR Rahmad Handoyo/Antara: Saat ini terjadi fenomena penyusutan produksi susu sapi yang diprediksi bakal terus berlanjut. Pemerintah agar secepatnya mengeluarkan aturan yang mewajibkan kemitraan antara industri dan peternak guna meningkatkan produksi susu lokal. Jangan sampai akibat dari penurunan akhirnya membuka ruang bebas masuknya susu impor. Pemerintah dapat bertindak tegas terhadap pelaku usaha industri yang tidak mau bermitra dengan peternak. Apalagi masih banyak pelaku yang lebih mengandalkan susu impor sebagai bahan baku produksi ketimbang susu yang dihasilkan dalam negeri.
  2. Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal (BKPM) Azhar Lubis berharap peningkatan produksi peternakan sapi perah lokal bisa mengurangi impor bahan baku susu yang kini mencapai 77 persen dari kebutuhan susu nasional. Kita tidak ingin semua kebutuhan susu 77 persen masih impor. Tentu kebutuhan dan konsumsi susu nasional akan meningkat. Paling tidak domestik yang tadinya hanya bisa penuhi 23 persen, bisa ditingkatkan menjadi 40 persen untuk konsumsi susu nasional. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, infrastruktur dan pendapatan masyarakat, kebutuhan dan konsumsi susu nasional akan bertambah namun Indonesia tidak mungkin hanya mengandalkan bahan baku susu melalui impor.
  3. Sekretaris Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Enny Ratnaningtyas: kebutuhan industri susu nasional sebesar 3,7 juta ton per tahun baru terpenuhi oleh produksi susu dalam negeri sebesar 23 persen atau sebanyak 850 ribu ton. 77 persen kebutuhan susu dipenuhi melalui impor dari berbagai negara, seperti Australia, Selandia Baru dan Amerika. Konsumsi susu Indonesia juga masih terbilang rendah yakni 12,1 liter per orang per tahun. Angka tersebut masih tertinggal jauh dibanding negara berkembang lainnya, seperti Malaysia yang sudah mengonsumsi 36-48 liter per orang per tahun.
  4. Scientific dan Regulatory Affairs and Food Safety & Quality Director Fonterra Brand Indonesia Affifudin: Fonterra Brands Indonesia melalui program bernama “Fonterra Dairy Scholarship” (FDS) yang bekerja sama dengan Ditjen PKH, Kementan, memberi pengetahuan tentang praktik peternakan sapi perah yang berkualitas pada peserta yang direncanakan akan ditambah jumlahnya sebanyak 45 peternak lokal dan petugas pemerintah bidang peternakan dari yang sebelumnya 12 orang. Untuk program 2017, Fonterra memberangkatkan 45 orang dengan kombinasi 75 persen peternak murni dan 25 persen petugas pemerintah bidang peternakan.
    Program dijalankan sejak 2013 dan saat ini memasuki tahun kelima tersebut akan membuka perekrutan penerima beasiswa pada Juni mendatang melalui situs resmi Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.Peserta penerima beasiswa ini nantinya akan mendapat pembekalan pengetahuan tentang cara beternak di daerah tropis melalui tiga fase selama tiga bulan dengan lokasi praktek di Baturaden, Selandia Baru dan Cikole. Setelah mendapatkan pembinaan tersebut, umumnya peternak berhasil meningkatkan produksi susu mereka lewat praktik higienitas, pemeliharaan sapi perah dan manajemen peternakan yang baru.
  5. Salah satu peserta beasiswa yang mengikuti FDS 2016, Septian, mampu meningkatkan produksi susunya dari 6-7 liter per hari setiap ekor sapi menjadi 16-17 liter melalui manajemen pakan yang baik dengan meningkatkan pemberian pakan hijauan. Komposisi pakan hijauan dan konsentrat ditingkatkan menjadi 60:40 persen dari sebelumnya 30:70 persen.
Advertisements

Fonterra Ekspansi Pasar

Bisnis Indonesia

  1. Demand UHT Indonesia naik 12% per tahun.  Karena:
    1. Jumlah ritel makin banyak
    2. Tuntutan gaya hidup mengutamakan kemudahan
    3. Harga semakin terjangkau
  2. Peningkatan permintaan UHT lebih cepat dari susu secara umum (5%).
  3. Permintaan produk susu tinggi: penetrasi konsumsi susu masyarakat urban mencapai 97%.
  4. PT Fonterra Brands Indonesia mengejar untuk mengisi permintaan tersebut. Tapi tidak menambah investasi karena bekerja sama dengan pihak ketiga yang sudah punya fasilitas.
  5. FBI akan ekspor susu bubuk ke Filipina tahun ini untuk mengoptimalkan kapasitas produksi pabrik Cikarang, yang baru mencapai 70% dari kapasitas 100.000 kemasan/hari.
  6. Konsumsi susu nasional 12,1 kg/kapita/tahun, jauh di bawah Malaysia (36 kg/kapita/tahun).
  7. BPS: potensi pasar susu dan produk turunannya s/d 2019: Rp44T (37T produk susu)
  8. Pasar prioritas Fonterra: Indonesia, Selandia Baru. Sri Lanka, Chile, China, Brasil, Australia.

Greenfields Luncurkan Keju Camembert

Media Indonesia,  Sindo News

Greenfields luncurkan produk olahan susu: keju Camembert, dibuat 100% dari susu produksi peternakan Greenfields di Malang, Jatim. Produksi keju menggunakan bakteri khas untuk Camembert dan jamur Penicilium candidum.